
Angin pagi di Pariaman masih menyisakan sejuk ketika Ririn merapikan kerudungnya. Di sampingnya, sang suami memanaskan mesin Yamaha Mio yang akan menjadi saksi perjalanan panjang mereka menuju Pekanbaru. Tak ada kemewahan dalam mudik mereka—hanya sebuah motor kecil, tas tangan berisi dokumen penting, dan harapan untuk sampai di kampung halaman dengan selamat.
Mereka berangkat dengan doa yang sederhana. Jalanan perlahan dipenuhi pemudik lain, sebagian dengan mobil, sebagian dengan motor seperti mereka. Di tengah riuhnya arus mudik, Ririn memeluk tas kecilnya erat—atau setidaknya, ia merasa telah melakukannya.
Tiga jam berlalu.
Di sebuah titik perhentian, saat perut mulai meminta diisi dan tangki motor hampir kering, mereka menepi. Namun saat itulah dunia seperti berhenti sejenak. Tas itu… tidak ada.
Tak ada dompet. Tak ada KTP, SIM, STNK. Tak ada handphone. Yang tersisa hanya keheningan dan pandangan saling bertanya.
“Di mana tasnya?”
Tak ada jawaban. Hanya rasa panik yang perlahan berubah menjadi kenyataan pahit: tas itu hilang, entah terjatuh di jalan atau tertinggal di tempat yang tak lagi bisa dijangkau.
Hari itu, mereka belajar arti kehilangan dalam bentuk yang paling sederhana namun menyakitkan.
Perut lapar tak lagi bisa ditawar. Tangki kosong tak bisa diabaikan. Namun tanpa uang, tanpa identitas, mereka seperti kehilangan arah di tengah perjalanan pulang.
Tak ada pilihan.
Dua helm yang mereka kenakan—pelindung kepala, sekaligus simbol keselamatan—akhirnya dilepas. Di Payakumbuh, helm itu ditukar dengan beberapa liter Pertalite. Sebuah barter sunyi, tanpa banyak kata, tapi sarat makna: keselamatan ditukar dengan kesempatan untuk tetap bergerak.
Motor kembali menyala.
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa helm, melawan panas, debu, dan mungkin juga rasa khawatir yang terus menggelayut. Sekitar 87 kilometer mereka tempuh dalam kondisi seadanya, hingga akhirnya roda Yamaha Mio itu berhenti di sebuah tempat yang tak mereka rencanakan sebelumnya—Posko Mudik PKS Riau di Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar.
Di sana, mereka tidak ditanya siapa. Tidak diminta apa.
Mereka hanya disambut.
Relawan yang berjaga mempersilakan mereka duduk. Air minum disuguhkan. Makanan dihidangkan. Tanpa banyak cerita, Ririn dan suaminya mulai makan—lahap, cepat, seolah setiap suapan adalah jawaban dari lapar yang sejak tadi mereka tahan.
Tak ada yang lebih jujur dari cara orang lapar menyantap makanan.
Relawan hanya saling pandang. Mereka mengerti tanpa perlu penjelasan panjang.
Setelah itu, tanpa diminta, tangki motor mereka diisi penuh. Bukan sekadar cukup untuk berjalan, tapi cukup untuk sampai. Cukup untuk menutup satu bab perjalanan yang nyaris terhenti di tengah jalan.
Di posko kecil itu, mereka tidak hanya menemukan bantuan. Mereka menemukan kembali harapan.
Perjalanan mudik bukan sekadar tentang berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia adalah kisah tentang ujian, tentang kehilangan, dan tentang tangan-tangan tak dikenal yang tiba-tiba hadir memberikan pertolongan.
Ririn dan suaminya mungkin kehilangan tas, dokumen, bahkan helm mereka. Namun hari itu, mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga—keyakinan bahwa di tengah kerasnya perjalanan, selalu ada kebaikan yang menunggu di tikungan berikutnya.
Dan Yamaha Mio itu kembali melaju.
Menuju Pekanbaru.
Menuju rumah.
Berjalan dengan hati yang sudah berdamai.
DPW PKS Provinsi Riau Situs Resmi DPW PKS Provinsi Riau