Jalan Mendaki Hendry Munief

Tepat pada 4 Oktober 2015 lalu di Negeri Istana, Siak Sri Indrapura resmilah ia mengemban amanah sebagai ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Riau periode 2015-2020.Pekikan takbir bersahut-sahutan memenuhi gedung Tengku Maharatu yang berhadap-hadapan dengan Istana Matahari Timur. Seakan pagi itu adalah hari Sultan Syarif Kasim II kembali tersenyum bahwa risalah dakwah yang dia perankan lebih dari seabad lampau tetap ada yang melanjutkannya.

***

Dari perawakannya beliau bukanlah laki-laki yang berpostur tinggi, tapi cekatan dalam setiap gerak langkahnya. Sepertinya setiap detik waktu baginya memang harus berisi, karena itulah modal utama untuk menggapai deretan impiannya yang satu persatu mulai terwujud. Dan bila kita bertemu dengannya suguhan utama adalah salam, sapa dan senyum yang mengalirkan kesejukan.

43 tahun yang lalu, hari Kamis 14 Desember 1972 ia dilahirkan dari pasangan suami istri Drs. H. Bachtiar dan Hj. Hurriyah di kota Pekanbaru ini. Anak kedua dari enam bersaudara itu tumbuh dan bergaul layaknya anak-anak lain di masa itu.

Ketika ia berusia enam setengah tahun orang tuanya berniat mendaftarkannya ke Sekolah Dasar (SD), tapi sayang panitia penerimaan siswa baru tahun itu tidak bisa menerimanya. Alasan mereka simpel, bahwa tangan Munief tidak bisa menjangkau telinga sebelahnya, artinya ia belum cukup umur untuk masuk sekolah. Tentu saja orang tuanya kecewa, namun tetap mereka terima kenyataan itu dengan kembali membawa pulang anaknya.

Tahun depannya mereka kembali ke sekolah dengan niat yang sama. Dan pada tahun itu, 1980 sahlah Munief sebagai salah seorang siswa di SD Teladan Pekanbaru (sekarang SDN 001 Pekanbaru). Semasa SD tidak ada yang istimewa dari segi prestasi yang diperolehnya, termasuk ketika sudah menyambung di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Pekanbaru. Namun kalau dilihat dari kesehariannya, ada satu hal yang jarang dimiliki anak-anak lain pada umumnya, dan yang satu itu adalah hobinya membaca buku.

Setamat dari SD sebenarnya Munief meminta kepada orang tuanya untuk diantarkan ke pesantren, dan pesantren yang diliriknya adalah pondok pesantren Darussalam atau Gontor yang berada diJawa Timur sana. Namun orang tuanya diwaktu itu belum membolehkan, di antara pertimbangan mereka bahwa Munief masih kecil, ditambah lagi kesan bahwa pesantren itu hanyalah tempat anak-anak yang bermasalah secara moral.

Tetapi hasrat untuk pergi merantau tidak pernah redup di hati Munief, justeru yang ada itu semakin berkobar. Keinginan yang terus menyala dari dorongan buku-buku yang dibacanya, seperti ungkapan Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa kita belum dikatakan betul-betul menuntut ilmu sampai kita bertemu dengan kesulitan, demikian pencerahan yang diperolehnya dari kitab Ihya Ulumuddin.

Di waktu yang lain keinginan untuk mandiri itu semakin membuncah. Ia baca dan resapi betul apa yang dikatakan oleh David J. Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big (Berfikir dan Berjiwa Besar), “Anda tidak akan sukses kalau anda tidak berfikir sukses.”

Selama setahun sekolah di SMPN 4 Pekanbaru, maka selama itu pulalah keinginan sekolah ke tanah Jawa tidak pernah bosan ia sampaikan pada orang tuanya. Maka pada suatu hari di penghujung tahun ajaran orang tuanya pun memberikan lampu hijau bagi Munief untuk menggapai mimpinya sekolah ke luar daerah. Dan di waktu itu dipilihlah kota Bandung, Jawa Barat.

Dengan diantar papanya, berangkatlah ia ke kota Kembang itu. Tidak ada saudara atau pun famili yang akan dituju di sana. Satu-satunya yang diyakininya hanyalah tekad dan tawakal pada Allah yang akan melihat besarnya kesungguhan. Seperti yang dikatakan Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelanginya, bahwa kalau kita bermimpi, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita itu.

Bersambung ke bagian 2